“Time heals almost everything. Just give time, time.”
It works for me, really

“Time heals almost everything. Just give time, time.”
It works for me, really
Gaya aksi = gaya reaksi.
Hal itu tertuang pada Hukum Newton III. Gaya aksi akan menimbulkan gaya reaksi yang sama besar. Jadi jika saya nonjok dinding dengan gaya sebesar 100 N, impact-nya akan sama besar. Yang pasti, tangan saya jadi sakit.
Well, I’m thinking about the co-relation of Newton’s third law with our life. Truth to be told, it has a very big co-relation. I’m not talking about applying Newton’s third law in physical term, but in the meaning of life.
So, what is it?
You’ll get what you give.
The much we give, the much we’ll get. The bigger we give, the bigger we’ll get. We can give everything, money, things, food, help, even just a smile. We don’t know the impact of what we’ve given to other person, rite? So just keep giving, without expecting for what we’ll get in the end. If we don’t get it now, I believe that we’ll get it in the hereafter.
Action = reaction.
What you get = what you give.
Isn’t it a beautiful equation? I think so
Hello, good morning, how ya do?
What makes your rising sun so new?
I could use a fresh beginning too
All of my regrets are nothing new
So this is the way
that I say that I need You
This is the way
This is the way
That I’m learning to breathe
I’m learning to crawl
I’m finding that You and
You alone can break my fall
I’m living again, awake and alive
I’m dying to breathe in these abundant skies
Hello, good morning, how ya been?
Yesterday left my head kicked in
I never thought I could fall like that
Never knew that I could hurt this bad
I’m learning to breathe
I’m learning to crawl
I’m finding that You and
You alone can break my fall
I’m living again, awake and alive
I’m dying to breathe in these abundant skies
So this is the way
that I say that I need You
This is the way
That I say I love You
This is the way
That I say I’m Yours
This is the way
This is the way
Learning to Breathe – Switchfoot
If I happen to visit my grandad in the hereafter, I hope that :
Perlahan ia angkat kepalanya dari tulisan yang belum sepenuhnya selesai itu. Tangannya bergetar, matanya menerawang memandang kamar yang tertata rapi itu. Mengingat setiap detil memori yang pernah ia dan sang empunya kamar buat. Pandangan mata Razzan tertumpuk pada kumpulan foto yang dibingkai dengan rapi di atas meja belajar. Terlihat betapa bahagianya ia dan Aruna, sang penulis catatan sekaligus empunya kamar, bersama teman-temannya yang lain. Momen di foto itu, ulang tahun Aruna yang ke 14, merupakan salah satu momen terbaik yang pernah mereka jalani.
Matanya beralih pada susunan buku yang tak wajar di meja belajar. Ia menggeser buku The Van Alen Legacy yang terlihat bertindihan dengan buku 5 Cm. Ternyata diantaranya terselip lagi sebingkai foto dimana mereka berdua tersenyum pada kamera, dengan latar belakang sunset di pantai pulau Karimun Jawa. Field trip terindah bagi Razzan. Field trip paling seru. Field trip terakhir mereka.
Tak terasa mata Razzan menjadi panas oleh air mata yang menggenang. Perlahan bulir-bulir air mata membasahi pipinya, mengeluarkan perasaan yang terpendam. Sudah seminggu sejak kepergian Aruna, perempuan periang dan jenius, satu-satunya orang yang ia sebut sahabat, satu-satunya orang yang bisa ia curahkan segala isi hatinya.
Ditengah keadaan berbaring dengan selang infus di lengannya, Aruna tetap menebarkan senyum manisnya manakala ia datang berkunjung. Tawa canda tak pernah lepas darinya. Jika ia tidak terus-terusan dirawat di rumah sakit dan meminum berbagai obat setiap harinya, tak akan ada yang menyangka bahwa Aruna tengah berjuang melawan leukimia.
Sebagai pribadi yang introvert, bukan hal yang mudah bagi Razzan untuk membuka diri. Aruna merupakan orang pertama -dan mungkin satu-satunya- yang berhasil membuka pintu itu, menjadikannya pribadi yang lebih baik.
Penyakit sialan! Kenapa kau harus hinggap di tubuh sahabatku?! Kau tak pantas menyerang orang sebaik dia! Kenapa, Tuhan?! Kenapa Kau harus ambil dia sekarang?! Aku…
Tak terasa air mata sudah membasahi wajahnya. Bahkan saat sakit pun ia masih memikirkanku..
Mendadak ia teringat salah satu obrolan terakhirnya dengan Aruna.
“Zan, saya nggak nyesel hidup di dunia ini. Meskipun kondisi saya begini, banned from every physical activities, eating medicine for the rest of my life… But I don’t regret it. Karena saya bisa ketemu kamu, temen-temen yang lain, dan semua yang udah bikin semangat hidup saya tetap ada. Jadi…. kamu jangan sedih ya, jangan nyesel kalau saya meninggal. Karena itu berarti saya akan ketemu Sang Pencipta. “
Sulit, Run. Bukannya saya menyesal, tetapi melepas kamu seperti… kehilangan pegangan. Saya tahu kamu pernah bilang bahwa pegangan utama manusia adalah Sang Pencipta, dan saya tetap berpegangan kepada-Nya. Tetapi, ini.. berat. Sangat berat. Maafkan saya, saya menangis. Tapi saya berjanji, air mata ini yang terakhir untukmu. Lain waktu, saya akan bawakan senyuman dan canda tawa, seperti yang sudah kamu berikan selama ini kepada saya….
Terlihat sosok tegap keluar dari sebuah rumah kecil. Samar-samar terlihat sosok itu tersenyum.
“So if your life flashed before you, what would you wish you would’ve done?”
Live Like We’re Dying – Kris Allen
Yes. So, use your time as efficiently. Arabic quotation says that time is like a sword. If you don’t use it as efficient as possible, it will cut you -maybe to death-. Well, we live only once, and another life is waiting in the hereafter. I believe that the quality of our “other” life is decided by how we live this live. So, keep doing good, and we’ll get a good result, too
“…. sesungguhnya setiap manusia memang diberi kebebasan untuk memilih. Memilih di persimpangan kecil atau besar dalam sebuah ‘Big Master Plan’ yang telah diberikan Tuhan kepada kita semenjak kita lahir…”
5 cm, page 206, Donny Dhirgantoro
Hari ini Rabu, 27 Januari 2010.
Sudah 15 tahun 9 hari saya hidup di dunia. Di perjalanan tadi, terlintas di otak saya mengenai nikmat dan karunia yang telah Tuhan berikan selama hidup ini. Sungguh, manusia seringkali tertutup pintu hatinya sehingga nikmat dan karunia yang begitu berlimpah disia-siakan begitu saja. Tak terkecuali saya.
Seminggu yang lalu, saya dikejutkan dengan rencana teman-teman -yang berjalan dengan mulus- menjaili saya yang berulang tahun. Meskipun dihiasi air mata dan swearing words, saya dibuat sadar betapa teman-teman menyayangi saya, sehingga mereka dengan sepenuh hati mengerjai dan memberikan kejutan kepada saya, for three whole days.
Nikmat yang telah Tuhan berikan tak hanya berupa yang kasatmata saja. Yang tak kasatmata pun tak terhingga jumlahnya.
Selama 15 tahun kehidupan saya di dunia ini, rasanya masih sedikit sekali tabungan saya untuk di akhirat nanti. Rasanya banyak sekali nikmat Tuhan yang saya sia-siakan. Padahal ketika salah satu nikmat itu dicabut (naudzubillah min dzalik), tak terbayangkan betapa kacaunya dunia ini.
Terimakasih, Ya Allah. Saya telah diberi nikmat yang tak terhingga banyaknya. Saya mempunyai mata untuk melihat, mulut untuk berbicara, tangan untuk menulis, kaki untuk berlari, lidah untuk merasakan betapa nikmatnya makanan yang saya makan, hidung untuk membaui bunga-bunga yang bermekaran, udara untuk bernapas, air untuk menghapus dahaga, makanan untuk menyudahi lapar, pemandangan alam spektakuler untuk menyegarkan pikiran, matahari untuk menghangatkan tubuh, serta bulan untuk menemani di kala malam.
Hari-hari saya semakin lengkap dengan kehadiran keluarga yang selalu ada setiap saat, sahabat dan teman-teman tempat berbagi senang dan duka, serta orang-orang yang membuat hidup saya begitu berwarna. Terimakasih telah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat tersebut, yang telah mengajarkan berbagai macam life lesson yang tak mungkin saya temui di sekolah mana pun.
Dan yang terpenting, terimakasih atas hidup yang telah Engkau berikan. Terimakasih atas kesempatan untuk menikmati dunia beserta isinya. Terimakasih, Tuhan.
“Something always brings me back to you. It never takes too long.”
Gravity – Sara Bareilles
am I? wonders, then.
It’s 11.20 pm now, forty minutes to go to 2010. Eighteen days left until my birthday. And now I’m here, sitting alone in my living room, face to face with my laptop, TV on, and the clock keeps ticking til no one knows when.
Another year is about to passed. 2009 is one of the bests memories I’ve ever had. Smiles, laughs, cries… Sweet, dark, even bittersweet memories. Life has taught me a lot of things in 2009. Life has showed me the way it works. Life has taught me that sometimes the right answer hasn’t come yet, because we’re not wise enough to see it.
I do believe that life works in a unique, mysterious yet unexpected ways. I do believe that God has planned everything for our best. And I hope I can be tougher, wiser, more patient in 2010.
Well, happy new year, fellas =)